Aside

Selamat Ulang Tahun Jakarta!

Hari ini Jakarta berulang tahun ke-490 loh!

enjoy_jakarta.png
Source: http://pelatihankepariwisataan.info

Sejarah Jakarta

Dikutip dari website Pemrov Jakarta, Jakarta bermula dari sebuah bandar kecil di muara Sungai Ciliwung sekitar 500 tahun silam.  Laporan para penulis Eropa abad ke-16 menyebutkan sebuah kota bernama Kalapa, yang tampaknya menjadi bandar utama bagi sebuah kerajaan Hindu bernama Sunda, beribukota Pajajaran, terletak sekitar 40 kilometer di pedalaman, dekat dengan kota Bogor sekarang. Bangsa Portugis merupakan rombongan besar orang-orang Eropa pertama yang datang ke bandar Kalapa. Kota ini kemudian diserang oleh seorang muda usia, bernama Fatahillah, dari sebuah kerajaan yang berdekatan dengan Kalapa. Fatahillah mengubah nama Sunda Kalapa menjadi Jayakarta pada 22 Juni 1527.

Jakarta Kini

Jakarta saat ini memiliki berbagai perkembangan pesat yang menjadikannya primadona. Berbagai daya tarik yang dimiliki Jakarta membuat masyarakat Indonesia ingin bertarung nasibnya di Ibukota. Hal ini sesuai dengan komentar dari Maman Suherman yang dikutip dari viva.co.id yaitu “sepanjang 75% peredaran uang ada di Jakarta, sepanjang ekspansi perbankan 80% di Jakarta, sepanjang ekspansi daerah juga masih di Jakarta, ya Jakarta masih menjadi magnet,” tutur pengamat sosial Maman Suherman.

Dirgahayu Jakarta Ke-490.jpg
Dok. Pribadi
Aside

Fenomena Buka Bersama

Tanpa terasa, bulan Ramadan telah tiba. Baru awal puasa namun ajakan untuk berbuka puasa bersama sudah membanjiri setiap chat di grup. Tiap tahun, sepertinya kegiatan tersebut menjadi tren dengan semakin banyaknya perkumpulan, perusahaan atau organisasi yang semakin banyak mengadakan buka bersama.

Buka bersama-01_0.jpg
Source: Pikiran-rakyat.com

Kedatangan Ramadan  yang seharusnya dapat dijadikan momen berhemat. Nyatanya, justru kebalikannya. Entah kenapa, Ramadan membuat orang-orang jadi terlalu bersemangat untuk berbuka atau makan malam bersama di luar. Sebenarnya, sah-sah saja apabila ingin buka bersama terlebih dengan teman yang jarang bertemu namun  menjadi terkesan “berat” apabila lokasi buka bersama yang jauh ataupun pemilihan tempat makan yang biayanya diatas rata-rata dengan alasan tempatnya bagus kalau difoto atau istilah kekiniannya instagram-able.  Apabila penekanan buka bersama fokus pada acara makan bersama, silaturahmi dan foto-foto sebenarnya hal tersebut dapat dicapai dengan membawa makanan yang dimasak sendiri ataupun membeli makanan di warung dan berkumpul di salah satu rumah teman yang memang cukup ruang untuk acara buka bersama, tidak perlu berkumpul di food court maupun restoran. Lebih simple bukan? Tidak mengharuskan kamu untuk pusing memikirkan reservasi tempat, menghitung budget untuk makan dan pajak  yang akan dikenakan apabila di restoran.

16c7f7cc-e640-4b24-b6e4-a5902dadf7ed-original

Coba kamu hitung deh berapa biaya yang kamu habiskan untuk sekali buka bersama, rata-rata akan menghabiskan diatas Rp.50.000 apalagi kalau kamu memilih tempat buka bersama yang hedon. Nah, bayangkan deh apabila kamu tergabung ke berbagai club atau komunitas. Harus berapa kali kah kamu berbuka bersama di luar? Berapa biaya yang kamu habiskan? Biaya yang lumayan besar itu bisa loh kamu alokasikan untuk kebutuhan mu di masa mendatang.  Kamu juga perlu mengingat kalau tidak semua orang hidup dalam kelebihan materi. Kamu harus realistis dan penuh empati. Lihatlah ke bawah, bukan lihat ke atas.

Yuk bijak menerima tawaran buka bersama!

Aside

Why Don’t You Have A Boy Friend?

Ketika bertemu orang yang sudah lama ditemui, pasti pertanyaan “sudah punya pacar belum?” menjadi pertanyaan lazim yang ditanyakan. Terkadang saya menjawabnya dengan tertawa bahkan menanyakan balik ke orang tersebut “emang penting ya?” Nah, biasanya kalau saya sudah jawab seperti itu, langsung deh beribu tawaran untuk dikenalkan ke lawan jenis di ajukan.

valentine-s-background-design_1302-3072.jpg
Love. – Source: freepik.com

Entah zamannya sudah terbalik atau bagaimana, saat ini pacaran sudah menjadi hal yang lazim di tengah masyarakat. Ketika satu atau beberapa anak muda tidak memiliki seorang pacar itu dianggap hal yang aneh. Orang lain pun menjudge dengan berbagai asumsinya masing-masing.

“Ih ga gaul deh kalo ga punya pacar”

“Lo terlalu pemilih sih jadi ga punya pacar”

“Lo galak sih”

dan masih banyak lainnya.

Well, buat kamu yang menjudge orang yang tidak punya pacar itu lebih “rendah” dibandingkan kamu yang punya pacar..coba deh kamu renungkan baik-baik sudah berapa lama waktu yang kamu miliki untuk dihabiskan bersama pacar mu (yang belum tentu jadi pasangan hidup mu)? berapa uang yang udah dihabiskan untuk jalan bareng? berapa banyak air mata mu yang keluar untuk dia? berapa banyak emosi yang dikeluarkan untuk menkhawatirkannya?pasti sudah banyak waktu mu yang terbuang untuk hal-hal tersebut kan? (ngaku aja, engga usah sok berkilah gitu :p)

Hei anak muda, waktu mu berharga untuk keluarga dan masa depan mu. Kalau waktu mu hanya dihabiskan untuk berpacaran saja, kamu yakin emang di masa depan bisa jadi jutawan? bisa sih…tapi lewat mimpi :p . Terus kalau engga pacaran, gimana bisa nikah? Dear bro,sis untuk mengenal karakter seseorang tidak perlu untuk ngajaknya pacaran. Kamu bisa mengajaknya sebagai sahabat atau teman bermain yang mengasyikan. Tidak perlulah merasa gengsi karena belum punya pacar diantara teman-teman karena teman mu yang punya pacar belum tentu lebih bahagia dari kamu. Siapatau kan ya untuk jalan bersama pacar masih pakai uang dari orang tua (eh? :p).  Toh, anak muda yang tidak punya pacar bukan berarti dia engga laku apalagi dibilang hidupnya hampa. Bukan berarti pula anak muda yang tidak punya pacar, tidak memiliki the special one di hidupnya. Cuma kamu saja yang tidak tahu. Hahaha.

Intinya nih, masa muda mu jangan disia-siakan begitu saja dengan berpacaran. Dunia ini luas. Masih banyak ilmu dan kehidupan yang kamu belum tahu. Kuy, explore around the world!

Aside

I Said Yes but…

Pernikahan tentu membawa kabar kebahagiaan bagi siapapun yang mendengarnya. Eh tapi kalau yang menikah masih berusia relatif muda bagaimana? Sedikit suprise dong ya! Hehe.

man-kneeling-at-sunset-giving-bouquet-to-a-woman_1150-49.jpg
Will you? – Source: Freepik.com

Ketika terbersit dalam pikiran mu untuk menikah muda ntah karena emang kamu anaknya suka ikutan trend atau emang sudah siap, kamu perlu mempertimbangkan berbagai hal. Pernikahan merupakan awal kehidupan sesungguhnya bagi kamu dan doi. Di masa-masa ini baru kamu bisa tau segala positif dan negatifnya doi yang sebelumnya kamu tidak tahu pas pacaran. Intinya, pernikahan bukan tentang soal bahagia doang!

Saat kamu memutuskan menikah muda di bawah usia 25 tahun, maka kamu akan melewati “masa istimewa” mu untuk berburu pengalaman dan beli ini itu. Kamu akan disibukkan dengan kuliah yang dibarengi dengan mengurus keluarga dan bertanggung jawab mencari nafkah. Kamu sulit untuk fokus pada satu hal atau sekedar mencoba hal baru yang ingin dilakukan. Karena hal-hal tersebut harus dibicarakan sama pasangan.

Masa muda memang menyenangkan dimana kita bisa merasakan suka duka pertemanan, manis pahitnya percintaan dan semacamnya. Bisa dikatakan cinta di masa muda itu merupakan cinta yang membuat kita mabuk. Nah, ketika menikah di usia muda yang memang lagi masa cinta banget pasti semua akan terasa indah. Saking indahnya terkadang lupa untuk mencintai keluarga dan teman, bahkan kamu juga lupa untuk mencintai diri mu sendiri. Hidup mu hanya berfokus ke dia semata (engga bosen emangnya? :p). Sebaiknya ketika kamu mempertimbangkan untuk menikah muda, kamu  perlu belajar untuk mencintai diri sendiri terlebih dahulu. Dengan mencintai diri sendiri, kamu jadi lebih tahu apa yang terbaik untuk diri mu dan ketika saat menikah muda itu pun tiba kamu sudah tahu konsekuensi yang akan dihadapi ke depannya.

Yang pasti dalam hidup ini seluruh individu akan merasakan yang namanya pernikahan, cuma waktunya saja yang berbeda-beda. Mungkin ada yang menikah muda, atau menikah saat usia matang. Janganlah gusar ketika teman mu sudah menikah muda dan kamu tetiba galau memikirkan “kapan nikah ya?”  bahkan kamu iri dengan temanmu itu. Tenang saja, setiap individu memiliki zona waktu menikahnya masing-masing.

 

 

Aside

Will You Marry Me?

Hayo apa yang terlintas di pikiran  mu ketika baca judul diatas? Pasti udah mikir tentang indahnya lamaran dan pernikahan kan? Hahaha tenang-tenang tulisan ini tidak membahas hal tersebut kok (jangan kecewa ya :p). Tulisan ini berawal dari terusiknya pemikiran penulis beberapa bulan belakangan yang semakin maraknya fenomena nikah muda. Sebenernya nikah muda itu penting engga sih? Kalau kata anak jaman sekarang, ada faedahnya engga?

flat-wedding-card_23-2147525633.jpg
Young Marriage. – Source: Freepik.com

Memang sih, saat ini sedang tren menikah ‘cepat’. Baru juga jadi teman dekat, orangtua sudah bertanya, “Kapan dilamar?” Terutama kalau para sahabat dekat juga sudah mulai bertunangan dan bahkan ada yang sudah punya anak. Kalau udah ditanya seperti itu, pasti pikiran mu membayangkan pernikahan dengan doi dan ingin buru-buru menikah. Padahal, menikah tidak semudah yang dibayangkan loh! Banyak konsekuensi yang harus kamu dan doi hadapi ketika menikah di usia relatif muda. Salah satu konsekuensinya yaitu trauma psikologis. Berdasarkan penelitian Dr. Yann Le Strat yang dikutip dari website huffitongpost menyatakan bahwa “anak yang menikah dibawah usia 18 tahun lebih memiliki resiko 41% menderita trauma psikologis”. Sedangkan berdasarkan penelitian PBB, menyatakan bahwa “wanita yang menikah dibawah usia 18 tahun besar kemungkinannya untuk menjadi korban kekerasan oleh pasangannya sendiri”. Bagaimana? Mengerikan bukan? Eh tapi kamu masih berpikir kalau pasangan mu merupakan orang baik, jadi tidak akan menyakitkan kamu. Doi kan cinta sama kamu. Duh, please deh ya jangan kemakan sama yang namanya cinta! Emang disaat kamu sudah menikah, si cinta bisa memenuhi kehidupan mu? Ya engga lah, kamu harus usaha dengan bekerja untuk memenuhi kebutuhan. Meski kamu tidak harus kaya ketika menikah, setidaknya kamu punya pekerjaan yang membuatmu tidak perlu meminta ke orang tua. Ke depannya, kamu bisa sama-sama membangun kehidupan dengan pasangan (ini pun kalau pasangan mu bisa diajak kerjasama, lah kalau doi selfish gimana? :p).  Kebutuhan yang tidak terpenuhi ketika sudah menikah bisa jadi masalah yang berujung  pada konflik yang akan memicu rusaknya pernikahan.

Anak muda sekarang banyak yang bilang ingin memperbaiki diri supaya levelnya setara dengan si pujaan hati. Dengan berpegangan surah An-Nuur:26 yang memiliki arti laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik dan begitu sebaliknya. Tidak ada yang salah memang dengan surah tersebut, tetapi ketika kamu mendekatkan diri mu dengan Tuhan cuma karena ingin mendapatkan si doi..itu yang salah.  Hei usia mu masih relatif muda, hanya ingin jodoh maka kamu mendekatkan diri ke Tuhan? Memang kamu tidak butuh pertolongan Tuhan terhadap urusan mu lainnya? Memang kamu tidak iri dengan teman mu yang sedang berkarir cemerlang atau teman yang meraih beasiswa impiannya? Dear youngpeople, kesempatan mu masih terbuka luas untuk meraih impian-impian mu. Jangan karena mengikuti trend menikah muda, kamu tetiba kebelet untuk cepat menikah. Memang memperbaiki diri itu perlu tapi perlu diluruskan tujuannya untuk apa. Sesungguhnya memperbaiki diri merupakan kewajiban bagi tiap individu, tidak hanya menyangkut soal jodoh semata.

Dear youngpeople, kesempatan mu masih terbuka luas untuk meraih impian-impian mu. Jangan karena mengikuti trend menikah muda, kamu tetiba kebelet untuk cepat menikah.

Dunia ini sungguh teramat luas. Masih banyak ilmu yang belum diketahui. Masih banyak tempat indah yang belum dikunjungi. Masih banyak perjalanan yang harus di lalui. Bukan cuma nungguin kamu yang galau karena doi. Percaya saja setiap individu memiliki batas waktu menikahnya masing-masing. So, don’t worry guys!

Source:

http://www.huffingtonpost.com

http://www.foreignersinuk.co.uk