Aside

Why Don’t You Have A Boy Friend?

Ketika bertemu orang yang sudah lama ditemui, pasti pertanyaan “sudah punya pacar belum?” menjadi pertanyaan lazim yang ditanyakan. Terkadang saya menjawabnya dengan tertawa bahkan menanyakan balik ke orang tersebut “emang penting ya?” Nah, biasanya kalau saya sudah jawab seperti itu, langsung deh beribu tawaran untuk dikenalkan ke lawan jenis di ajukan.

valentine-s-background-design_1302-3072.jpg
Love. – Source: freepik.com

Entah zamannya sudah terbalik atau bagaimana, saat ini pacaran sudah menjadi hal yang lazim di tengah masyarakat. Ketika satu atau beberapa anak muda tidak memiliki seorang pacar itu dianggap hal yang aneh. Orang lain pun menjudge dengan berbagai asumsinya masing-masing.

“Ih ga gaul deh kalo ga punya pacar”

“Lo terlalu pemilih sih jadi ga punya pacar”

“Lo galak sih”

dan masih banyak lainnya.

Well, buat kamu yang menjudge orang yang tidak punya pacar itu lebih “rendah” dibandingkan kamu yang punya pacar..coba deh kamu renungkan baik-baik sudah berapa lama waktu yang kamu miliki untuk dihabiskan bersama pacar mu (yang belum tentu jadi pasangan hidup mu)? berapa uang yang udah dihabiskan untuk jalan bareng? berapa banyak air mata mu yang keluar untuk dia? berapa banyak emosi yang dikeluarkan untuk menkhawatirkannya?pasti sudah banyak waktu mu yang terbuang untuk hal-hal tersebut kan? (ngaku aja, engga usah sok berkilah gitu :p)

Hei anak muda, waktu mu berharga untuk keluarga dan masa depan mu. Kalau waktu mu hanya dihabiskan untuk berpacaran saja, kamu yakin emang di masa depan bisa jadi jutawan? bisa sih…tapi lewat mimpi :p . Terus kalau engga pacaran, gimana bisa nikah? Dear bro,sis untuk mengenal karakter seseorang tidak perlu untuk ngajaknya pacaran. Kamu bisa mengajaknya sebagai sahabat atau teman bermain yang mengasyikan. Tidak perlulah merasa gengsi karena belum punya pacar diantara teman-teman karena teman mu yang punya pacar belum tentu lebih bahagia dari kamu. Siapatau kan ya untuk jalan bersama pacar masih pakai uang dari orang tua (eh? :p).  Toh, anak muda yang tidak punya pacar bukan berarti dia engga laku apalagi dibilang hidupnya hampa. Bukan berarti pula anak muda yang tidak punya pacar, tidak memiliki the special one di hidupnya. Cuma kamu saja yang tidak tahu. Hahaha.

Intinya nih, masa muda mu jangan disia-siakan begitu saja dengan berpacaran. Dunia ini luas. Masih banyak ilmu dan kehidupan yang kamu belum tahu. Kuy, explore around the world!

Aside

I Said Yes but…

Pernikahan tentu membawa kabar kebahagiaan bagi siapapun yang mendengarnya. Eh tapi kalau yang menikah masih berusia relatif muda bagaimana? Sedikit suprise dong ya! Hehe.

man-kneeling-at-sunset-giving-bouquet-to-a-woman_1150-49.jpg
Will you? – Source: Freepik.com

Ketika terbersit dalam pikiran mu untuk menikah muda ntah karena emang kamu anaknya suka ikutan trend atau emang sudah siap, kamu perlu mempertimbangkan berbagai hal. Pernikahan merupakan awal kehidupan sesungguhnya bagi kamu dan doi. Di masa-masa ini baru kamu bisa tau segala positif dan negatifnya doi yang sebelumnya kamu tidak tahu pas pacaran. Intinya, pernikahan bukan tentang soal bahagia doang!

Saat kamu memutuskan menikah muda di bawah usia 25 tahun, maka kamu akan melewati “masa istimewa” mu untuk berburu pengalaman dan beli ini itu. Kamu akan disibukkan dengan kuliah yang dibarengi dengan mengurus keluarga dan bertanggung jawab mencari nafkah. Kamu sulit untuk fokus pada satu hal atau sekedar mencoba hal baru yang ingin dilakukan. Karena hal-hal tersebut harus dibicarakan sama pasangan.

Masa muda memang menyenangkan dimana kita bisa merasakan suka duka pertemanan, manis pahitnya percintaan dan semacamnya. Bisa dikatakan cinta di masa muda itu merupakan cinta yang membuat kita mabuk. Nah, ketika menikah di usia muda yang memang lagi masa cinta banget pasti semua akan terasa indah. Saking indahnya terkadang lupa untuk mencintai keluarga dan teman, bahkan kamu juga lupa untuk mencintai diri mu sendiri. Hidup mu hanya berfokus ke dia semata (engga bosen emangnya? :p). Sebaiknya ketika kamu mempertimbangkan untuk menikah muda, kamu  perlu belajar untuk mencintai diri sendiri terlebih dahulu. Dengan mencintai diri sendiri, kamu jadi lebih tahu apa yang terbaik untuk diri mu dan ketika saat menikah muda itu pun tiba kamu sudah tahu konsekuensi yang akan dihadapi ke depannya.

Yang pasti dalam hidup ini seluruh individu akan merasakan yang namanya pernikahan, cuma waktunya saja yang berbeda-beda. Mungkin ada yang menikah muda, atau menikah saat usia matang. Janganlah gusar ketika teman mu sudah menikah muda dan kamu tetiba galau memikirkan “kapan nikah ya?”  bahkan kamu iri dengan temanmu itu. Tenang saja, setiap individu memiliki zona waktu menikahnya masing-masing.

 

 

Aside

Will You Marry Me?

Hayo apa yang terlintas di pikiran  mu ketika baca judul diatas? Pasti udah mikir tentang indahnya lamaran dan pernikahan kan? Hahaha tenang-tenang tulisan ini tidak membahas hal tersebut kok (jangan kecewa ya :p). Tulisan ini berawal dari terusiknya pemikiran penulis beberapa bulan belakangan yang semakin maraknya fenomena nikah muda. Sebenernya nikah muda itu penting engga sih? Kalau kata anak jaman sekarang, ada faedahnya engga?

flat-wedding-card_23-2147525633.jpg
Young Marriage. – Source: Freepik.com

Memang sih, saat ini sedang tren menikah ‘cepat’. Baru juga jadi teman dekat, orangtua sudah bertanya, “Kapan dilamar?” Terutama kalau para sahabat dekat juga sudah mulai bertunangan dan bahkan ada yang sudah punya anak. Kalau udah ditanya seperti itu, pasti pikiran mu membayangkan pernikahan dengan doi dan ingin buru-buru menikah. Padahal, menikah tidak semudah yang dibayangkan loh! Banyak konsekuensi yang harus kamu dan doi hadapi ketika menikah di usia relatif muda. Salah satu konsekuensinya yaitu trauma psikologis. Berdasarkan penelitian Dr. Yann Le Strat yang dikutip dari website huffitongpost menyatakan bahwa “anak yang menikah dibawah usia 18 tahun lebih memiliki resiko 41% menderita trauma psikologis”. Sedangkan berdasarkan penelitian PBB, menyatakan bahwa “wanita yang menikah dibawah usia 18 tahun besar kemungkinannya untuk menjadi korban kekerasan oleh pasangannya sendiri”. Bagaimana? Mengerikan bukan? Eh tapi kamu masih berpikir kalau pasangan mu merupakan orang baik, jadi tidak akan menyakitkan kamu. Doi kan cinta sama kamu. Duh, please deh ya jangan kemakan sama yang namanya cinta! Emang disaat kamu sudah menikah, si cinta bisa memenuhi kehidupan mu? Ya engga lah, kamu harus usaha dengan bekerja untuk memenuhi kebutuhan. Meski kamu tidak harus kaya ketika menikah, setidaknya kamu punya pekerjaan yang membuatmu tidak perlu meminta ke orang tua. Ke depannya, kamu bisa sama-sama membangun kehidupan dengan pasangan (ini pun kalau pasangan mu bisa diajak kerjasama, lah kalau doi selfish gimana? :p).  Kebutuhan yang tidak terpenuhi ketika sudah menikah bisa jadi masalah yang berujung  pada konflik yang akan memicu rusaknya pernikahan.

Anak muda sekarang banyak yang bilang ingin memperbaiki diri supaya levelnya setara dengan si pujaan hati. Dengan berpegangan surah An-Nuur:26 yang memiliki arti laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik dan begitu sebaliknya. Tidak ada yang salah memang dengan surah tersebut, tetapi ketika kamu mendekatkan diri mu dengan Tuhan cuma karena ingin mendapatkan si doi..itu yang salah.  Hei usia mu masih relatif muda, hanya ingin jodoh maka kamu mendekatkan diri ke Tuhan? Memang kamu tidak butuh pertolongan Tuhan terhadap urusan mu lainnya? Memang kamu tidak iri dengan teman mu yang sedang berkarir cemerlang atau teman yang meraih beasiswa impiannya? Dear youngpeople, kesempatan mu masih terbuka luas untuk meraih impian-impian mu. Jangan karena mengikuti trend menikah muda, kamu tetiba kebelet untuk cepat menikah. Memang memperbaiki diri itu perlu tapi perlu diluruskan tujuannya untuk apa. Sesungguhnya memperbaiki diri merupakan kewajiban bagi tiap individu, tidak hanya menyangkut soal jodoh semata.

Dear youngpeople, kesempatan mu masih terbuka luas untuk meraih impian-impian mu. Jangan karena mengikuti trend menikah muda, kamu tetiba kebelet untuk cepat menikah.

Dunia ini sungguh teramat luas. Masih banyak ilmu yang belum diketahui. Masih banyak tempat indah yang belum dikunjungi. Masih banyak perjalanan yang harus di lalui. Bukan cuma nungguin kamu yang galau karena doi. Percaya saja setiap individu memiliki batas waktu menikahnya masing-masing. So, don’t worry guys!

Source:

http://www.huffingtonpost.com

http://www.foreignersinuk.co.uk

Quote

Supermentor 16 – End Poverty: Tantangan Nol Kemiskinan di Abad 21

Pada 17 Oktober 2016 lalu, saya berkesempatan membantu acara Supermentor 16 yang diadakan di Djakarta Theater XXI. Supermentor 16 mengangkat tema tantangan nol kemiskinan di abad 21 dan pembicara di acara ini yakni Reza Rahadian (SDG’S Mover UNDP), Sri Mulyani (Minister of Finance RI), Vivi Alatas (Lead Economist World Bank), Amb Paul Grigson (Australian Ambassador) dan Dino Patti Djalal (Founder FPCI).

w750_h400px__1476759330
All Speakers Supermentor 16

Reza Rahadian

Sosok Reza Rahadian pasti sudah tak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Reza terpilih sebagai penggerak SDGs (Sustainable Development Goals) oleh UNDP dan memiliki tugas untuk berpartisipasi di berbagai program yang berkaitan dengan SDGs dan program UNDP di Indonesia. Di depan 3000 pasang mata yang hadir di acara supermentor 16, Reza menceritakan pengalamannya tinggal di Sumba, Nusa Tenggara Timur selama tiga bulan. Reza melihat dengan mata kepala sendiri bahwa  kehidupan masyarakat di Sumba sangat prihatin dan terbatas. Bersama program bring water for life, Reza bersama UNDP memberikan akses air bersih di Sumba. Namun, pendidikan anak Sumba terbengkalai karena harus mementingkan air bersih untuk kehidupan sehari-hari. Untuk itu, Reza mengatakan “we can do something for other people’s live“. Yap, Reza ridak ingin menyalahkan pemerintah dengan adanya keterbatasan di wilayah Sumba. Reza berharap masyarakat Indonesia mulai peduli dengan kesulitan orang lain.

we can do something for other people’s live” – Reza Rahadian

img-20161017-wa0029
Wefie Bersama Reza Rahadian – dok.pribadi

Sri Mulyani

Bagi Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani, untuk menghapus kesenjangan tidak hanya membutuhkan dana namun juga pemikiran dan kemampuan untuk belajar dari kesalahan kita sendiri. Dalam proses menghapus kesenjangan pun, pemerintah membutuhkan kehadiran dan kontribusi masyarakat. “Negara akan maju apabila masyarakat peduli terhadap kebijakan pemerintah”, ujarnya.

Vivi Alatas

img-20161018-wa0014-1
Foto Bersama Vivi Alatas – dok.pribadi

Vivi membuka sesi sharingnya dengan memberikan sebuah tayangan video mengenai kesenjangan yang terjadi sejak seorang anak berada di kandungan Ibunya hingga akhir masa hayatnya. Berdasarkan data terakhir Bank Dunia, jumlah penduduk miskin di Indonesia yakni 28,6 juta jiwa dan jumlah penduduk Indonesia yang rentan terhadap kemiskinan mencapai 62 juta jiwa. Masih banyaknya penduduk miskin di Indonesia membuat pemerintah dan masyarakat perlu bekerjasama untuk mengentaskan kemiskinan. Menurut Vivi, saat ini kita perlu lebih banyak superconnector. Superconnector yakni pihak yang menyampaikan berbagai informasi penting kepada masyarakat mengenai program pemerintah. Untuk berperan sebagai superconnector hanya membutuhkan niat baik dalam menyebarkan informasi yang bermanfaat. Kita dapat menolong orang lain dengan memberikan informasi yang bermanfaat. Bisa jadi orang yang tergolong miskin adalah orang  yang tidak tahu: pentingnya, haknya dan caranya. Dalam hal ini maka superconnerctor hadir dan memberikan informasi melalui percakapan (ngobrol) atau kemajuan teknologi (sharing di media sosial, broadcast info di whatsapp, dll). “Jangan hanya update sedang apa, dimana dan sama siapa di media sosial namun juga update yang bermanfaat untuk orang banyak”, tuturnya.

Paul Grigson

Cu-dJbQUEAEDIvl.jpg
Penampilan Paul Grigson di Panggung Supermentor 16 – dok. World Bank Indonesia

Sosok Duta Besar Australia Untuk Indonesia, Paul Grigson, menyerukan kepada kaum muda untuk berperan aktif memerangi ketimpangan ekonomi. Baginya, kaum muda dengan berbagai latar belakang pekerjaan dan keahliannya dapat menjadi bagian perubahan dan turut mengentaskan kemiskinan.

Dino Patti Djalal

Dino, Founder FPCI, menyatakan bahwa terdapat tiga hal yang mampu untuk menyelesaikan permasalahan kemiskinan yakni pendidikan, teknologi dan entrepreneurship. Ketiga hal tersebut merupakan faktor yang telah dilakukan negara-negara yang sukses mengentaskan kemiskinan.

Acara supermentor 16 pun berakhir pada pukul 21.30 WIB dan diakhiri dengan sesi foto bersama seluruh pembicara dan dilanjutkan dengan ngobrol santai di ruang VIP untuk pembicara dan panitia.

img-20161017-wa0034
Foto bersama seluruh panitia supermentor16 – dok.pribadi

Note:

If you couldn’t attend the show, you can watch the re-run by streaming on here. Thank you!

Aside

Bermain Ice Skating

Hari Minggu (5/6/2016), saya bersama tim inti YOTGreen memutuskan untuk quality time dengan bermain ice skating di Sky Rink, Taman Anggrek Mall. Saat itu, antrian sudah lumayan panjang dan untung saja kami mendapat sesi 1 untuk bermain yakni jam 11.00 – 13.00 WIB. Fyi, harga tiket masuk saat weekend Rp.85.000,- /2jam dan jika ingin menambah waktu lagi dikenakan biaya Rp.9.000,-/jam. Nah, buat kamu yang mau main sepuasnya, saya sarankan untuk bermain di weekday dikarenakan harga tiket lebih murah yakni Rp.65.000,- dan bermain sepuas kamu. Jika kamu tidak tahan dengan suhu dingin di arena Ice Skating, kamu dapat membeli kaus kaki dan sarung tangan untuk menghangatkan suhu tubuh mu. Harga kedua barang tersebut yakni Rp.12.000,-/Pcs. Sebaiknya saya sarankan kamu untuk membawanya dari rumah agar lebih hemat,hehehe. Oiya, kedua barang tersebut dibeli bersamaan ketika membeli tiket masuk di loket depan dan termasuk pula menyewa loker untuk menyimpan barang bawaan kamu (kecuali kalau kamu ada seseorang yang bersuka hati menjaga barangmu dan ia tidak mau bermain ice skating). Harga penyewaan loker sebesar Rp.12.000,- untuk setiap koinnya. Nah, jadi sistem loker ini tidak memakai kunci namun koin, sehingga kamu hanya bisa menaruh barang kamu sekali dan membukanya ketika sudah selesai bermain. Maka dari itu, pastikan seluruh barang bawaaan mu telah masuk ke loker  karena jika ada barang mu yang ketinggalan maka kamu harus membeli koin kembali untuk membuka dan menutup loker tersebut untuk kedua kalinya.

20160609_042005
Tiket Ice Skating Sky Rink (Tampak Depan)

Setelah membeli tiket dan sebagainya, kita mengantri untuk mengambil sepatu skating dan hal ini tidak dapat diwakilkan karena kaki akan diukur dengan cara menaruh kaki ke sebuah gambar telapak kaki. Kemudian, memakai sepatu skating dan harus dipastikan diikat kencang ya agar kamu tidak terjatuh saat bermain. Lalu, menaruh barang-barang di loker dan kamu siap untuk berselancar di ice. Yeay!

Saat menginjakkan kaki pertama kali di ice, sulit untuk berdiri karena licin sehingga harus berpegangan dengan sesuatu. Bermain ice skating sebenarnya sama saja dengan bermain sepatu roda pada prinsipnya, namun yang membedakan arena bermainnya. Untuk kamu yang masih belum bisa bermain ice skating, kamu bisa kok tetap masuk arena ini dan bermain dipinggirannya karena ada pegangan yang bisa kamu pegang agar tidak terjatuh. Buat kamu yang pengen banget bisa, coba saja ikut sekolahnya. Hehe. Untuk harganya, kamu dapat klik di http://bit.ly/skatingschool.

Note : Simpan baik-baik tiket masuk. Jangan sampai hilang karena saat keluar dari arena Sky Rink, tiket ditanyakan kembali oleh petugas.

capture-20160717-082347
Foto Bersama Tim YOTGreen Batch 6

 

Aku, Kamu dan Ego

Aku, Kamu dan Ego

Kamu pernah tidak merasa jengkel, kesel atau semacamnya dengan orang terdekat? Yaa pasti pernah dong! Nah, kali ini aku mau berbagi cerita sedikit mengenai ego yang akan selalu ada di setiap hubungan, baik hubungan persahabatan, keluarga maupun percintaan. Hehehe.

 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ego merupakan konsepsi individu tentang dirinya sendiri. Tidak ada konotasi negatif dari arti kata ini. Justru merupakan langkah awal untuk segala yang bernama kebaikan, karena merupakan refleksi dari kesadaran individu mengenai dirinya sendiri. Kemudian kata ini mendapat akhiran menjadi “egois” yang berarti: orang yang selalu mementingkan diri sendiri. Dari sini kemudian kita melegitimasi dengan definisi bahwa orang yang egois (baca: mementingkan diri sendiri) adalah orang yang bertingkah laku buruk karena tidak memikirkan kepentingan atau kesejahteraan orang lain.

Ego seringkali bahkan selalu akan muncul dalam setiap kali kita berhubungan dengan orang lain. Ketika kedua ego saling bertemu dan tidak adanya kata sepakat diantara dua ego tersebut maka tak dipungkiri akan menimbulkan sebuah masalah. Masalah yang muncul pun di antara ego tersebut akan sulit di selesaikan jika kedua ego masih tetap pada pendiriannya. Saat itu, maka sebaiknya kedua pihak berintropeksi diri dan memenangkan diri terlebih dahulu. Jika kedua pihak sudah tenang, maka secepatlah selesaikan masalah tersebut. Bukannya tidak enak bermusuhan dengan orang terdekat ? Pasti ada rasa rindu kan? hehehe.

Jangan menuruti apa kata egomu, egomu nanti akan memunculkan rasa gengsi yang membuatmu enggan meminta maaf padanya atau enggan memaafkan dan justru lebih memilih saling menjauh. Bahkan, kalau kamu menuruti kata ego biasanya kamu juga sudah malas untuk menemuinya. Ingatlah bahwa dulunya kalian adalah teman asyik tanpa rasa baper, teman nongkrong yang seru, atau semacamnya. Ingat juga kebaikan-kebaikan yang diberikan dia kepada kamu. Masalah yang ada di antara kalian merupakan bumbu-bumbu kehidupan yang harus dilewati. Seenak apapun makanan pasti perlu bumbu agar ada rasanya, nah kehidupan kita juga perlu bumbu loh.

Yuk, mulai kontrol ego kita bersama dan beranjaklah dewasa baik hati maupun pikiran 🙂

Semoga bermanfaat dan See You On Top!

Source : http://notetoself01.com