Romantisme Menjadi Asisten Dosen

Asisten dosen a.k.a asdos seringkali dipandang “keren” dengan berbagai alasan. Seorang asisten dosen yang dianggap sebagai tangan kanan dosen, yang “derajatnya” sudah pasti lebih tinggi dibanding mahasiswa lainnya. Katanya juga menjadi asisten dosen dianggap punya prestasi akademik diatas rata-rata sehingga seringkali dianggap setiap masukkan dan sarannya benar. Padahal asdos juga manusia yang bisa saja salah wekeke. Asdos terbuka kok apabila kamu tidak setuju dengan pendapatnya, ya bilang saja.

1460455815-8244804276.jpg
Jadi Asisten Dosen enak gak? – Souce: Youthmanual.com

Menjadi seorang asisten dosen pasti memiliki “prestise” sendiri yang tidak bisa didapatkan di dunia profesional. Pekerjaannya pun mungkin (masih) dianggap sebelah mata oleh mahasiswa padahal peran asdos itu penting lho gaes! Asdos seringkali dianggap sebagai penghubung antara mahasiswa dengan dosen, sehingga kamu selalu dihubungi oleh mahasiswa untuk menanyakan keberadaan dosen, ada juga yang curhat masalah akademik dan masih banyak lainnya. Kalau kamu merupakan tipe yang senang mendengarkan, ya kamu menikmati hal tersebut. Tapi kalau kamu bukan tipe orang yang senang mendengarkan, wah selamat kamu harus mencoba mendengarkan mereka. Hahaha. Fyi gaes, kalau menghubungi asdos juga ingat waktu ya. Jangan malam atau pagi-pagi buta kamu menghubunginya, asdos juga perlu istirahat dari rutinitas yang ada dan mengurus pekerjaan lainnya.

Terus, sering juga asdos ditanyakan berbagai hal terkait problem di Kampus. To be honest, tidak semua asdos boleh mengetahui problem tersebut. Kalaupun boleh, tentu saja asdos tersebut harus memegang rahasia atas problem yang ada dan tidak menyebarkannya. Seorang asdos juga diminta untuk dapat mengatur jadwal sidang proposal, sidang skripsi dan hal yang bersifat teknis lainnya. Saat jadwal tersebut berubah mendadak karena satu hal, kamu sebagai asdos harus menanggapinya biasa saja dan jangan dianggap sebuah beban. Kalaupun ada mahasiswa yang protes, jelaskan saja alasan mengapa jadwal berubah. Biasanya mereka akan mengerti posisi asdos sebagai perantara informasi.

Sebagai asdos, kamu juga punya kesempatan untuk mendapatkan ilmu dengan dosen. Kamu bisa diskusi dengan mereka sampai akar permasalahan sebuah diskusi (alias sampai tuntas) jadi kamu bisa memiliki sebuah pandangan baru terkait sebuah masalah. Eh, diskusinya bukan ilmiah juga gapapa kok. Para dosen biasanya menerima dengan tangan terbuka buat asdos untuk diskusi apa saja termasuk diskusi next step on your life. Mereka dengan senang hati memberikan wejangan, masukkan dan sudut pandang yang tentu saja berbeda dari satu dosen dengan dosen lainnya sehingga kamu bisa memutuskan hal tersebut baik tidak untuk kamu ke depannya. Dosen pun tidak sungkan untuk bercerita apa saja ke kamu kalau kamu sudah akrab dengannya. Eits, tapi jangan diartikan salah ya keakraban mu dengan dosen, ya tetap saja harus menghormatinya. Hoho.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s