Karakteristik Budaya Jepang

Bendera Jepang
Bendera Nasional Jepang

Jepang adalah sebuah negara kepulauan di Asia Timur. Negara ini terletak di ujung barat Samudra Pasifik dan berbatasan dengan Republik Rakyat Cina, Korea dan Rusia.[1] Di dalam suatu negara pasti terdapat unsur-unsur yang didalamnya menunjang sebuah negara tersebut, misalnya sumber daya alam yang negara tersebut miliki, teknologi, budaya dan lainnya. di dalam tulisan ini saya akan membahas mengenai karakteristik budaya Jepang dimana sampai saat ini masih dilakukan dan dijunjung tinggi oleh masyarakat Jepang.

Budaya Jepang mencakup interaksi antara budaya asli Jomon yang kokoh dengan pengaruh dari luar negeri yang menyusul. Berbagai budaya Jepang lahir dari jaman kekaisaran yang dipengaruhi juga oleh kebudayaan bangsa lain seperti Eropa, Asia serta Amerika Tengah. Jepang merupakan salah satu negara yang memiliki huruf tersendiri dan wajib digunakan oleh seluruh warga negara. [2]

Jepang merupakan suatu bangsa yang pernah memiliki latar belakang sebagai petani dan nelayan selama berabad-abad lamanya, pergaulan di dalam masyarakat Jepang menghasilkan suatu “rule of unaminous”. Bangsa ini menganggap pentingnya kebersamaan dan kecenderungan untuk tidak menentang keinginan kelompok karena tidak ingin terkucil dari lingkungan kelompoknya. Akibatnya, tercipta suatu “sense of harmony” yang mementingkan toleransi dan kebiasaan menyampaikan ungkapan yang bernada “ambiguity” atau sikap yang tidak terus terang (aimai) dengan tujuan menjaga suasana harmoni di masyarakat.[3] Maka sesuai penjelasan diatas, orang Jepang tidak suka menyampaikan pendapat secara terbuka atau terus-terang, mereka cenderung ingin menutupi maksud yang sebenarnya. Seringkali mereka lebih memilih “tersenyum” dibanding menolak secara tegas suatu usulan ataupun gagasan.[4] Dalam hal ini, orang Jepang baik dalam keadaan suka maupun duka harus dapat mengendalikan emosinya dan tidak mengungkapan emosi atau perasaannya tersebut secara jelas. Emosi hanya dapat dilepaskan pada festival berlangsung. Contohnya pada saat beberapa kelompok di Jepang menggotong omikoshi (kuil kecil), mereka berteriak dengan gembira.[5]

Selanjutnya, bangsa Jepang sangat pekerja keras. Rata-rata jam kerja pegawai di Jepang adalah 2450/tahun yang lebih tinggi dibandingkan dengan Amerika (1957 jam/tahun). Di Jepang, pulang cepat merupakan sesuatu yang tidak boleh dikatakan karena dianggap “agak memalukan” dan hal tersebut menandakan bahwa pegawai tersebut merupakan pegawai yang tidak dibutuhkan oleh perusahaan.[6]

Kemudian, bangsa Jepang sangat percaya pada keyakinannya yang disebut amakudari (rakhmat yang turun dari surga), yang merupakan kepercayaan kuat bahwa sebagai satu bangsa mereka selamanya akan berjuang, berdasarkan kekuatan dan kemampuan ekonominya, semangat kerja-samanya dan sistem pemerintahan yang dimilikinya.[7] Lalu, terdapat pula kesadaran kelompok di kalangan bangsa Jepang konon berakar pada budaya tanam padi di sawah yang dimana pada masa lampau harus dikerjakan bersama, berdasarkan sistem kerjasama berkelompok dan kuatnya ikatan kekeluargaan.

Bangsa Jepang juga memiliki suatu budaya yang bernama bushido. Bushido adalah etika moral bagi kaum samurai. Bushido menekankan pada kesetiaan, keadilan, rasa malu, tata-krama, kemurnian, kesederhanaan, semangat berperang, kehormatan dan lainnya. [8] Pada semangat bushido, seorang samurai diharapkan menjalani pelatihan spiritual guna menaklukkan dirinya dengan alasan bahwa kita harus terlebih dahulu menaklukkan diri sendiri, jika berhasil maka  selanjutnya dapat menaklukkan orang lain. Kekuatan yang diperoleh dengan cara ini dapat menaklukkan sekaligus mengundang rasa hormat pihak lain sebagai kemantapan spritual. Makna dari bushido ini yaitu sikap rela mati negara/kerajaan dan kaisar.

Orang Jepang terkenal dengan budaya malu-nya yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Terdapat suatu ungkapan lama Jepang berbunyi “Kunshi wa hitori o tsutsushimu“, yang artinya “orang hebat selalu menjaga perilakunya, meskipun sedang sendiri.” Dari ungkapan itu tersirat bahwa menjaga perilaku diri sendiri itu dianggap sangat penting, sekalipun tidak ada orang lain yang melihat. Orang Jepang berusaha menjaga citranya sebagai manusia yang ideal yang tersimpan dalam pikirannya. Apabila gagal menjaga citra tersebut, yang bersangkutan merasa malu akan dirinya, dan juga malu terhadap orang-orang lain. Dengan demikian, rasa malu yang dalam bahasa Jepang disebut haji – bukanlah karena takut akan kritikan orang, takut dibenci orang dan sebagainya, tapi lebih disebabkan penyesalan karena telah menodai citra diri sendiri. Kesimpulannya, rasa malu itu timbul lebih banyak dari faktor internal atau berasal dari diri sendiri.

Adanya sebuah realitas kehidupan Jepang mengenai kesadaran tentang kesenioran yang sangat berperan dalam masyarakat Jepang, terutama dalam menjaga berlangsungnya tatanan sosial secara baik. Untuk itu, diciptakan aturan-aturan moral yang menjaga kelancaran dan kelanggengan hubungan demikian. Mereka yang secara sosial lebih tinggi kedudukannya (lebih kaya) merasa terpanggil atau bahkan berkewajiban untuk melindungi atau mengurus orang-orang yang berkedudukan di bawahnya, baik untuk urusan sosial maupun pribadi. Di lain pihak, orang-orang yang kedudukannya lebih rendah merasa patut membalas kebaikan tersebut dengan menyatakan hormat, kesetiaan. Perasaan demikian disebut on (rasa utang budi). Orang-orang yang tidak mempedulikan on kurang disukai dalam masyarakat karena dianggap kurang bermoral.

Masyarakat Jepang juga kurang dapat menerima sifat individualisme di dalam kehidupannya seperti di dalam masyarakat Barat. Masyarakat Jepang selalu menjaga keharmonisan dengan kelompok, lingkungan, dan alam. Seseorang yang masuk dalam sebuah kelompok, atau memang tergabung dalam sebuah kelompok seperti kelompok ketetanggaan. Seseorang tersebut merasa terdapat kewajibannya untuk bertindak seirama dengan kemauan kelompok dan tidak bertindak menonjolkan diri atau lain sendiri karena hal itu akan mengundang rasa kurang senang kelompoknya. Prestasi seseorang di dalam kelompok bukan lagi prestasi pribadi yang bersangkutan saja tetapi secara tidak langsung menjadi prestasi kelompoknya juga. Pokok dari hal ini yaitu orang Jepang mengutamakan kebersamaan yang ada dibandingkan orang Barat yang tidak mementingkan hal tersebut.

[1] Unknown, “Jepang”, Wikipedia diakses dari http://www.wikipedia.com, pada tanggal  27 Maret 2014 pukul 19.20

[2] Sondy Damanik, ”Karakteristik Kebudayaan Jepang”, Blogspot dari http://sondis.blogspot.com/2013/04/karakteristik-kebudayaan-jepang-dan.html?m=1, pada tanggal 27 Maret 2014 pukul 19.30

[3] Abdul Irsan, Budaya dan Perilaku Politik Jepang di Asia, (Jakarta: Grafindo Khazanah Ilmu, 2007), h.86

[4] Ibid.,

[5] Admin, “Serba-Serbi Karakter Jepang; Kesadaran Kelompok, Kerja Keras, Bushido dan Senyum Jepang”, Kedutaan Besar Jepang dari http://www.id.emb-japan.go.jp/aj305_01.html, pada tanggal 27 Maret 2014 pukul 20.02

[6] Hidsan Koesmara Putra, “10 Sifat Orang Jepang Yang Patut Ditiru”, Memobee dari http://www.memobee.com/10-sifat-orang-jepang-yang-patut-ditiru-1903-eij.html, pada tanggal 27 Maret 2014 pukul 20.00

[7] Putra. loc. cit.

[8] Kedutaan Besar Jepang. loc. cit.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s